Manajemen Keuangan Usaha Tenun Tradisional

Setelah tahu beberapa hal terkait usaha tenun tradisional, lalu apa lagi pengetahuan yang perlu diketahui? Anda juga perlu mengetahui permodalan dan manajemen keuangan usaha tenun tradisional. Berikut penjelasan terkait hal tersebut.

Manajemen Keuangan Usaha Tenun

Sumber Modal

Sebelum mengetahui dan memahami manajemen keuangan usaha tenun tradisional, Anda harus tahu sumber modalnya lebih dulu. Permodalan untuk usaha tenun tradisional yang biasa dipakai yaitu :

Modal Pribadi

Modal pribadi yaitu modal yang berasal dari pemilik usaha tanpa meminjam dari pihak lain. Pengusaha pemula harus menyiapkan modal.

Pinjaman Bank

Pinjaman jenis ini sudah lama dan paling konvensional dilakukan oleh para pelaku usaha. Pinjaman bank umumnya diincar sebab bunganya yang relatif kecil yaitu KUR (Kredit Usaha Rakyat).

Pinjaman Lunak PKBL dari BUMN

PKBL (Pinjaman Kemitraan Bina Lingkungan) adalah salah satu bentuk dari implementasi CSR oleh BUMN. Setiap BUMN punya prosedur yang berbeda.

Fasilitas Pemerintah

Bantuan pemerintah bisa berupa peralatan yang diberikan pada kelompok usaha yang sudah berjalan (running).

Manajemen Keuangan Usaha Tenun Tradisional

Berikut beberapa hal terkait manajemen keuangan usaha tenun tradisional yang perlu Anda ketahui :

a. Kebutuhan Modal dan Perhitungan Harga Pokok

Informasi manajemen keuangan usaha tenun tradisional yang pertama adalah kebutuhan modalnya dan perhitungan harga pokoknya. Untuk mendirikan usaha kerajinan tenun dibutuhkan modal minimal sebagai berikut (studi kasus tenun lurik)  :

  1. Modal bangunan minimal seluas ± 62 m2, yang terdiri atas :
  • 2 m2 digunakan untuk pengelosan dan pemaletan benang,
  • 20 m2 dipakai untuk penyekiran benang,
  • 20 m2 digunakan untuk penenunan benang, serta
  • 20 m2 dipakai untuk penyimpanan bahan dan produk.
  1. Modal dana sebesar Rp 31.650.000, meliputi :
  • Rp 22.850.000 digunakan untuk investasi pengadaan peralatan*, serta
  • Rp 8.800.000 dipakai untuk pembelian bahan baku benang dan zat pewarna buat produksi selama 1 bulan (5 boom).
  1. Sumber daya manusia (SDM) yang diperlukan terdiri atas :
  • 1 orang pewarna benang,
  • 1 orang pemalet dan pengelos benang,
  • 1 orang penyekir, dan
  • 5 orang penenun.

Analisis manajemen keuangan usaha tenun lurik terkait kebutuhan modal untuk pendirian usaha.

No. Kegiatan produksi Ruang (m) Alat / bahan baku Harga (Rp)
1. Pewarnaan benang (1 orang) (3 x 3 = 9) 5 ember 250.000
1 pawon / kompor 250.000
1 tong rebus 150.000
2. Pengelosan / pemaletan (1 orang) 2 x 1 = 2 1 alat kelos / palet 300.000
3. Penyekiran (1 orang) 4 x 5 = 20 Sekir / hani* 10.000.000
4. Penenunan (5 orang) 2 x 2 x 5 = 20 Alat tenun ATBM 5 @ Rp 2.000.000 10.000.000
5. Instalasi air Air 500.000
6. Pengeringan benang (4 x 5 = 20) Tiang, tali, dan penjepit jemuran 400.000
7. Penyimpanan 4 x 5 = 20 Bahan dan produk 1.000.000
8. Subtotal 1 s.d. 7 22.850.000
9. Produksi 5 boom / bulan Benang 15 pres 4.500.000
Zat warna 20 x Rp 90.000 1.800.000
10. Upah karyawan Pewarna 15 x Rp 30.000 450.000
Pengelos 5 x Rp 60.000 300.000
Pemalet 5 x Rp 60.000 300.000
Penyekir 5 x Rp 50.000 250.000
Penenun 400 x Rp 3.000 1.200.000
11. Subtotal 9 dan 10 8.800.000
12. Total 62 m2 8 dan 11 31.650.000

Keterangan : Perkiraan harga pada tahun 2017

* Kalau tak ada / tak punya alat sekir atau boom (hani), pengrajin bisa memanfaatkan jasa penyekiran benang dari pengusaha / pihak lain.

b. Perhitungan Laba Rugi

Informasi manajemen keuangan usaha tenun tradisional yang kedua adalah perhitungan laba-rugi. Berikut contoh perhitungan laba-rugi usaha tenun lurik.

Suatu perusahaan berencana memproduksi 1 boom benang dengan hasil kain lebar 105 cm dan panjang kain sekitar 80 m. Untuk memproduksi kain tersebut diperlukan :

  • benang sebanyak 3 pres, dan
  • zat warna 4 ons.

Ongkos produksi yang diperlukan sebesar Rp 1.760.000 untuk membiayai tenaga :

  • mewarnai benang,
  • mengelos benang,
  • memalet benang,
  • menyekir benang, dan
  • menenun benang.

Dari bahan benang sebanyak 3 pres akan dihasilkan kain sepanjang 80 m. Bila harga kain tenun sebesar Rp 26.000 per meter, maka didapat hasil penjualan sebesar Rp 2.080.000.

Dengan demikian pengusaha akan memperoleh laba sebesar Rp 320.000 (18% dari ongkos produksi).

Manajemen keuangan usaha tenun terkait biaya produksi untuk benang 1 boom dan keuntungannya dirinci sebagai berikut (dalam rupiah) :

No. Jenis bahan Pengeluaran Pemasukan
Harga :    
1. 3 pres benang @ Rp 300.000 900.000
2. 4 ons zat pewarna @ Rp 90.000 360.000
Ongkos
3. pewarnaan benang 3 pres @ Rp 30.000 90.000
4. 15 kg kelos @ Rp 4.000 60.000
5. 15 kg palet @ Rp 4.000 60.000
6. menyekir 15 kg 50.000
7. menenun 80 m @ Rp 3.000 240.000
8. Total biaya produksi (no. 1 s.d. 7) 1.760.000
9. Hasil penjualan : 80 m x Rp 26.000 2.080.000
Keuntungan pengusaha (no 9 – 8) (18%) 320.000

Keuntungan untuk 1 boom sebesar Rp 320.000. Bila dalam 1 bulan pengusaha tenun memproduksi 5 boom, maka keuntungan yang akan diperoleh dalam 1 bulan yaitu sebesar Rp 1.600.000.

Seluruh aset peralatan dan biaya produksi untuk 1 bulan adalah sebesar Rp 31.650.000. Maka titik impas (break even point) usaha tenun lurik yaitu 20 bulan.

Jika pengusaha tidak membeli / mempersiapkan alat hani / sekir (Rp 10.000.000), maka modal yang dibutuhkan untuk pembelian alat hanya Rp 12.850.000. Sehingga modal keseluruhan Rp 21.650.000.

Dengan demikian BEP atau titik impas jadi 13,5 bulan (Rp 21.650.000 : Rp 1.600.000).

c. Sistem Penggajian

Berikut ini sistem penggajian dalam manajemen keuangan usaha tenun tradisional :

1. Sistem Pengupahan

Sistem pengupahan atau penggajian karyawan usaha tenun tradisional bisa dilakukan dengan sistem :

  • setiap hari (upah harian),
  • setiap pekan,
  • setiap bulan, dan
  • borongan.

Karyawan borongan dapat mengerjakan pekerjaan menenun di rumah sendiri memakai alat milik sendiri atau alat milik pengusaha.

2. Besaran Upah

Besaran upah karyawan tenun bergantung pada tingkat kesulitan dari pekerjaannya. Di mana semakin sulit pekerjaan maka semakin besar juga upah yang akan diterima.

Dengan demikian, pengalaman seseorang dalam menjalankan proses menenun, menentukan jumlah :

  • hasil tenun dan
  • upah.

3. Bonus

Bonus merupakan bentuk penghargaan yang diberikan pengusaha kepada seorang pekerja. Karena mereka bisa menyelesaikan tanggung jawab pekerjaan berdasarkan kinerjanya, seperti :

  • ketepatan waktu penyelesaian,
  • kecepatan penyelesaian atau kurang dari waktu yang sudah ditentukan,
  • jumlah kain tenun yang dihasilkan (melebihi target),
  • kualitas hasil tenun,
  • serta beberapa hal lain yang pantas untuk diberi bonus.

Biasanya bonus berupa :

  • uang,
  • jaminan kesehatan, dan
  • peningkatan kesejahteraan.

d. Perpajakan Kegiatan Usaha

Informasi manajemen keuangan usaha tenun tradisional yang keempat adalah pajak usaha. Tiap aktivitas usaha yang telah mendaftar untuk dapat NPWP sebenarnya mendapatkan fasilitas dari kantor pajak (KPP) berupa penanggung jawab / pengawas.

Penanggung jawab tersebut bisa dimanfaatkan sebagai konsultan pajak yang disediakan oleh negara. Oleh karena itu sebagai pengelola manajemen keuangan usaha tenun Anda harus selalu berkonsultasi terkait pajak.

Pengusaha baru dianjurkan untuk sering berkonsultasi dengan penanggung jawab / pengawas pajak yang sudah difasilitasi kantor pajak. Sehingga bisa dapat informasi teknis mengenai perpajakan yang berhubungan dengan usahanya.

Era teknologi sudah membawa gaya hidup tersendiri bagi para pelaku bisnis, meskipun masih dalam skala UMKM. Dari sisi pajak, UMKM memiliki potensi yang sangat besar dalam meningkatkan pemasukan pajak.

Berikut beberapa potensi pajak yang harus diperhatikan dalam manajemen keuangan usaha tenun tradisional yaitu antara lain :

PPN (Pajak Pertambahan Nilai)

Pemerintah sudah menetapkan aturan tentang batasan Pengusaha Kena Pajak (PKP) yaitu sejak 1 Januari 2014. PKP diterapkan bagi pengusaha yang omsetnya mencapai Rp 4,8 miliar per tahun.

Dengan demikian, semua pelaku usaha yang omsetnya telah mencapai atau melebihi jumlah yang ditentukan harus mengajukan PKP. Karena wajib memungut PPN sebesar 11% atas setiap transaksinya.

PPh (Pajak Penghasilan)

Selain dikenai PPN dalam transaksi, para pengusaha pun wajib membayar Pajak Penghasilan (PPh). Saat ini belum ada aturan khusus tentang pemberlakuan PPh atas pengusaha bidang tenun tradisional. Sehingga masih dikenai ketentuan PPh secara umum.

Pemberlakuan pajak pengusaha dengan penghasilan / omset bruto tak melebihi Rp 4,8 milyar dikenai pajak yang sama dengan pajak UMKM. Di mana pajak UMKM yaitu 1% dari omset. Ketentuan ini berdasarkan PP Nomor 46 tahun 2013.

Pajak Daerah

Mengacu pada otonomi daerah, tiap aktivitas usaha yang menghasilkan keuntungan umumnya dikenai kewajiban untuk membayar retribusi daerah. Yang besarannya sesuai dengan peraturan daerah masing-masing.

e. Pencatatan Keuangan

Informasi manajemen keuangan usaha tenun tradisional yang kelima adalah pencatatan keuangan. Tiap usaha wajib melakukan pencatatan keuangan usahanya supaya bisa memberikan informasi mengenai :

  • penjualan,
  • data stock persediaan bahan,
  • laporan penjualan harian dan bulanan.

Manajemen keuangan usaha tenun dalam hal pencatatan keuangan dapat dilakukan secara manual maupun menggunakan komputer dengan perangkat lunak Excel.

Bagi usaha tenun tradisional yang belum begitu besar, paling tidak bisa menyiapkan buku kas. Sehingga bisa mengetahui aliran kas usaha tiap harinya.

Selain itu, lewat buku kas bisa diketahui berapa omset penjualan tiap bulan. Dengan catatan bahwa seluruh penjualan dilakukan secara tunai / cash.

Dengan mengetahui omset penjualan, maka pengusaha bisa mudah saat akan melaporkan usahanya ke kantor pajak atau pihak lain. Karena didukung oleh data keuangan dari buku kas tersebut.

Demikian info mengenai manajemen keuangan usaha tenun tradisional, semoga artikel kali ini membantu kalian. Tolong postingan bisnis tenun tradisional ini dishare biar semakin banyak yang mendapatkan manfaat.

Referensi : Jadi Pengusaha yang Sukses

Ternyata belajar internet itu mengasyikan, apalagi bisa punya penghasilan 20 jutaan per bulan... rasanya gimana gitu... Tapi gimana cara belajarnya?? Klik gambar di bawah untuk dapat solusinya

Komunitas SB1M
loading...

Check Also

Manajemen Pemasaran Usaha Tenun

Manajemen Pemasaran Usaha Tenun Tradisional

Bagaimana caranya agar produk tenun tradisional bisa sampai ke para konsumen? Caranya adalah dengan melakukan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.