Manajemen SDM Usaha Tenun Tradisional

Apakah usaha tenun tradisional Anda sudah memiliki sumber daya manusia (SDM) yang memadai? Sebagai pengetahuan Anda perlu tahu manajemen SDM usaha tenun tradisional yang akan dijelaskan di bawah. Simak artikel ini hingga selesai.

Manajemen SDM Usaha Tenun

Manajemen SDM Usaha Tenun Tradisional

Berikut beberapa hal terkait manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) usaha tenun tradisional :

Jenis Sumber Daya Manusia

Jenis sumber daya manusia (SDM) yang diperlukan oleh usaha tenun tradisional meliputi :

  • penghani / tukang sekir,
  • tukang warna benang,
  • perencana produksi,
  • tukang palet, dan
  • tukang kelos.

Untuk manajemen SDM usaha tenun tradisional terkait jenis sumber daya manusia dan tugasnya secara rinci adalah sebagai berikut :

No. SDM Tugas SDM dalam Pertenunan
1. Penghani / tukang sekir Menghitung jumlah benang lusi yang dperlukan tukang sekir. Lalu menata / mendesain benang kelos sesuai dengan rencana desain motif untuk digulung pada boom lusi.
2. Tukang warna Mewarna benang sesuai dengan jenis zat, resep dan warna yang dimau.
3. Pendesain motif Menggambar, menentukan motif tenun yang akan dibuat.
4. Perencana produksi Menghitung jumlah benang dan warna benang produksi yang diperlukan sesuai dengan lebar kain, panjang kain, dan nomor sisir yang dipakai.
5. Pengelos Menggulung benang dalam bentuk kelos yang akan dipersiapkan untuk penghanian / pembentangan sebagai benang lusi.
6. Pemalet Menggulung benang dalam bentuk palet. Di mana gulungan benang ini akan disiapkan ke teropong untuk benang pakan.
7. Penenun Menenun dan menganyam benang pakan dengan alat tenun.

Elemen dalam SDM Usaha Tenun

Karyawan atau dalam hal ini pengrajin merupakan elemen penting yang ikut menentukan keberlangsungan usaha tenun tradisional. Berikut ini elemen penting dalam manajemen SDM usaha tenun tradisional :

a. Perekrutan SDM

Manajemen SDM usaha tenun tradisional mengenai perekrutan karyawan harus memiliki kompetensi khusus yaitu :

  • penghani / penyekir,
  • tukang warna, dan
  • perencana produksi.

Perekrutan tenaga kerja (SDM) usaha tenun tradisional umumnya dilakukan dari masyarakat sekitarnya. Di mana masyarakat yang akan direkrut adalah yang memiliki latar belakang dan minat di bidang pertenunan.

Proses perekrutan dilakukan melalui :

  • tenaga kerja yang sudah ada,
  • tetangga,
  • kenalan,
  • pelatihan, dan
  • bekerjasama dengan pihak penyedia tenaga kerja.
b. Pelatihan

Dalam manajemen SDM usaha tenun tradisional setelah perekrutan dilakukan pendampingan dan/atau pelatihan. Ada dua perlakuan terkait SDM yaitu pendampingan dan pelatihan.

Pendampingan secara langsung atau pemagangan / nyantrik dilakukan bagi para pengrajin terkait yang telah mahir. Sedangkan pelatihan bagi pengrajin tenun, umumnya diperuntukkan bagi :

  • penghani / tukang sekir,
  • tukang warna, dan
  • perencana produksi.

Pelatihan untuk SDM usaha tenun tradisional ini bertujuan untuk mengembangkan individu dalam bentuk peningkatan :

  • keterampilan,
  • pengetahuan, dan
  • sikap.
c. Pembinaan

Pembinaan dalam manajemen SDM usaha tenun tradisional bertujuan untuk meningkatkan rasa tanggung jawab dan kesungguhan dalam menjalankan tugasnya. Pembinaan oleh pengusaha terhadap pengrajin tenun sebaiknya harus disesuaikan dengan :

  • tingkat kompetensi, dan
  • usianya.

Strategi pembinaannya bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut :

  1. Pengrajin diberi :
  • pekerjaan yang tingkat kesulitannya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
  • kebebasan dalam memilih sistem pengupahan seperti sistem harian atau borong.
  • insentif sesuai kinerjanya yang bisa berupa pujian, barang, atau uang.
  1. Hubungan kerja dibangun dengan pendekatan persaudaraan / kekeluargaan.
  2. Suasana kerja dibangun dengan iklim kerja yang mampu mengembangkan kreativitas kerja mereka. Dengan memberikan keamanan dan kebebasan psikologis. Jika pengrajin melakukan kesalahan kerja, mereka tak Namun diberi pengertian mengenai kesalahan yang dilakukan dan diberi motivasi untuk memperbaiki diri.
  3. Proses kerja disesuaikan dengan sistem sosial dan budaya yang berlaku di masyarakat. Misalnya waktu musim panen pengrajin diberi kebebasan untuk bekerja di sawah / ladang.

Kontrak Kerja

Dalam manajemen SDM usaha tenun tradisional juga menangani masalah kontrak kerja pengusaha dan karyawan. Untuk menjaga hubungan kerja antara pengusaha dan karyawan dibutuhkan kontrak kerja.

Hal ini supaya perusahaan berjalan dengan lancar dan kedua pihak tak dirugikan. Kontrak kerja ini berlaku untuk semua karyawan, baik itu karyawan tetap ataupun karyawan tak tetap.

Kontrak kerja khususnya dilakukan antara pengusaha dengan para pendesain motif tenun dan tukang sekir. Kontak kerja bertujuan supaya kedua pihak selama menjalani kerja sama tak ada yang dirugikan.

Misalnya, karyawan baru yang kompetensinya masih rendah, harus diberi pembinaan / pelatihan supaya kompetensinya sesuai dengan kebutuhan.

Tapi jika setelah kompetensi meningkat tiba-tiba karyawan keluar dari perusahaan, akan merugikan perusahaan. Oleh karena itu, hubungan kerja tersebut harus diikat dengan kontrak kerja.

Misalnya :

Pada kontrak kerja pertama, karyawan yang baru harus bekerja sedikitnya selama 6 (enam) bulan. Jika sebelum masa waktu yang ditentukan yang bersangkutan keluar dari perusahaan, maka dia harus mengganti biaya selama pelatihan.

Pada kontrak kerja kedua dan selanjutnya, karyawan harus bekerja sedikitnya selama 2 (dua) tahun. Jika sebelum masa waktu 2 tahun karyawan yang bersangkutan keluar dari perusahaan, maka dia harus membayar ganti rugi dengan jumlah tertentu.

Kontrak kerja antara pengusaha dan pendesain motif bertujuan supaya motif-motif yang dibuat oleh pendesain atas perintah pengusaha akan jadi milik perusahaan. Sehingga motif tersebut tak boleh dijual atau diberikan pada pihak lain atau dipakai oleh UKM lainnya.

Perjanjian Kerja

Manajemen SDM usaha tenun tradisional juga berkaitan dengan perjanjian kerja. Perjanjian kerja tertulis dibutuhkan untuk memberi kepastian dan memberi kenyamanan antara pemberi dan penerima kerja.

Perjanjian kerja yang dibuat secara tertulis sekurang-kurangnya harus memuat beberapa hal berikut ini :

  • Untuk perusahaan : nama dan alamat perusahaan, serta jenis usaha.
  • Untuk karyawan : nama, jenis kelamin, umur, dan alamat pekerja / buruh
  • Jabatan atau jenis pekerjaan
  • Tempat pekerjaan
  • Besar upah dan cara pembayarannya
  • Syarat-syarat kerja yang memuat hak dan kewajiban baik bagi pengusaha maupun pekerja / buruh
  • Mulai dan jangka waktu berlakunya dari perjanjian kerja tersebut
  • Tempat dan tanggal perjanjian kerja dibuat
  • Tanda tangan dari para pihak yang ada dalam perjanjian kerja.

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)

Dalam manajemen SDM usaha tenun tradisional juga berkaitan dengan PHK (pemutusaan hubungan kerja).

PHK bisa dilakukan setelah mendapatkan penetapan dari lembaga penyelesaian hubungan industrial dengan memperhatikan peraturan yang berlaku (UU Ketenagakerjaan).

Pengusaha yang melakukan PHK pada karyawannya harus membayar uang pesangon dan/atau uang penghargaan masa kerja. Selain itu juga uang penggantian hak yang seharusnya diterima dengan perhitungan yang diatur dalam dalam UU Ketenagakerjaan.

Baca juga : Manajemen Keuangan Usaha Tenun Tradisional

Sekian info berkaitan dengan manajemen SDM usaha tenun tradisional, semoga artikel kali ini berguna buat kalian. Tolong post bisnis usaha tenun tradisional ini diviralkan supaya semakin banyak yang mendapat manfaat.

Ternyata belajar internet itu mengasyikan, apalagi bisa punya penghasilan 20 jutaan per bulan... rasanya gimana gitu... Tapi gimana cara belajarnya?? Klik gambar di bawah untuk dapat solusinya

Komunitas SB1M
loading...

Check Also

Manajemen Pemasaran Usaha Tenun

Manajemen Pemasaran Usaha Tenun Tradisional

Bagaimana caranya agar produk tenun tradisional bisa sampai ke para konsumen? Caranya adalah dengan melakukan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.